Incorporating with

Incorporating with

Indo Livestock Expo & Forum

Susi Ajak Semua Pihak Tanam Modal di Sektor Perikanan

Bisnis.com, JAKARTA  – Pemerintah mendorong peningkatan investasi di sektor perikanan seiring dengan berhasilnya pemberantasan illegal, unreported, unregulated (IUU) Fishing  dan diterapkannya Peraturan Presiden (perpres) Nomor 44/2016.

Seperti diketahui, Perpres 44/2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal membatasi masuknya investasi asing bagi sejumlah sektor di dalam negeri. Salah satunya adalah sektor perikanan tangkap telah ditutup sepenuhnya untuk asing.

Udang Akan Topang Perikanan Budi Daya

Bisnis.com, JAKARTA - Komoditas udang masih menjadi penopang utama kinerja produksi perikanan budi daya tahun ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyampaikan bahwa target produksi udang pada 2019 dari hasil rapat trilateral antara KKP, Kementerian Keuangan dan Bappenas adalah sebanyak 1,098 juta ton.

“Karena udang ini kan [nilai ekonomi pada] ekspor,” ujarnya saat ditemui Bisnis, beberapa waktu lalu.

Tags:

Pembudidaya Patin & Lele Incar Pasar Ekspor

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha budi daya ikan patin dan lele berharap dapat menyasar pasar baru berupa ekspor untuk meningkatkan geliat produksi komoditas perikanan tersebut pada 2019.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Azzam Bachrur mengatakan untuk meningkatkan produksi budi daya ikan patin dan ikan lele harus ada pasar baru.

“Pasar baru yang kami bidik baik untuk produksi ikan patin maupun lele ya pasar luar negeri, karena tanpa adanya [ekspor] produksi susah untuk diangkat, karena siapa yang mau makan kalau diproduksi banyak-banyak? Karena selama ini sudah mendekati terpenuhi [pasokannya] untuk pasar lokal,” ujar Azzam saat dihubungi Bisnis, Senin (7/1).

Seperti yang tercatat pada data Refleksi 2018 dan Outlook 2019 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pertumbuhan rata-rata produksi ikan budi daya meningkat tajam pada periode Januari—September 2018 secara tahunan.

Tercatat, pada periode tersebut ikan lele mengalami kenaikan sebesar 114,82% dari jumlah 841,750 ton pada 2017 menjadi 1,81 jutaton pada 2018. KKP menilai bahwa faktor kenaikan komoditas perikanan budi daya ini karena kegiatan bioflok yang dilakukan dianggap mampu menaikkan produksi ikan lele.

Kemudian, disusul produksi gurame yang mengalami kenaikan sebesar 110,88% dari 169.000 ton menjadi 356,530 ton. Selanjutnya, posisi ketiga ditempati oleh ikan patin yang mengalami kenaikan dua kali lipat lebih yakni 100,23%. Dari 245,750 ton pada 2017 menjadi 492.000 ton pada 2018.

Azzam memproyeksikan pertumbuhan  produksi ikan lele pada 2019 tidak akan lebih dari 10% dari data KKP itu. “Kalau ikan lele karena [kebanyakan diproduksi] untuk konsumsi dalam negeri yang terlihat paling penambahan orang makan, itu persentasenya tidak terlalu besar saya kira tidak sampai di atas 10% [dari pertumbuhan tahun 2018].”

Dia juga memproyeksikan apabila belum ada ekspor pada tahun ini, maka pertumbuhan produksi ikan lele dan patin kurang lebih akan stagnan.

Dikatakan Azzam, belajar dari pengalaman pada masa lalu, untuk kelas pasar lokal, apabila para pembudidaya ikan patin dan ikan lele memproduksi secara masif, maka produksi pada tahun berikutnya justru akan mengalami penurunan karena terjadinya produksi berlebih.

Source: bisnis.com, 08 Januari 2019

KKP Patok Ekspor Lele & Patin Capai US$25 Juta

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan ekspor komoditas ikan lele dan ikan patin pada 2019 mencapai US$25 juta, seiring dengan potensi pasar yang diyakini kian terbuka.

Direktur Produksi dan Usaha Budidaya (PUB) KKP Umi Windriani menyampaikan target tersebut bersumber dari data Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP).

“Pada 2019 ekspor ditargetkan Lele dan patin sekitar US$20 juta – US$25 juta dengan volume sekitar 10.000 ton – 15.000 ton," ujar Umi saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/1/2018).

Umi menilai target tersebut akan tercapai karena permintaan ekspor untuk kedua komoditas ikan catfish  sudah mulai terbuka.

"Apalagi pasca launching brand image "Indonesian Pangasius" di Timur Tengah beberapa waktu lalu, telah memberikan efek luar biasa terhadap peningkatan preferensi konsumen global untuk produk catfish asal Indonesia," jelasnya.

Melihat ketertarikan dari konsumen global tersebut, pihak KKP yakin dapat merebut pangsa pasar patin Amerika Serikat yang sebelumnya dikuasai oleh Vietnam.

Apalagi, sejak 2017 produk ikan patin atau dori berbentuk fillet dari Vietnam diembargo oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa karena  sempat ditemukan memiliki kandungan Tripolyphospate yang melebihi ambang batas.

Selain itu, KKP juga yakin dapat menyasar pangsa pasar Timur Tengah yakni Dubai, Abu Dhabi, dan Arab Saudi untuk produk fillet ikan patin. "Kami targetkan ke depan bisa kuasai supply share 50.000 ton - 60.000 ton per tahun."

Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), Arab Saudi mengimpor ikan patin baik dalam bentuk fillet maupun portion cut dengan nilai mencapai US$50 juta per tahun.

Impor patin Timur Tengah saat ini juga dikuasai oleh Vietnam dengan pangsa pasar 61% dari total nilai impor patin sebesar US$79 juta walaupun  mengalami penurunan sekitar 10% dalam 4 tahun terakhir.  Indonesia hingga saat ini belum mencatatkan ekspor patin ke Timur Tengah.

Senada dengan KKP, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Azzam Bachrur menyampaikan saat ini pihaknya sedang berjuang agar hasil produksi budi daya ikan patin dapat masuk ke pasar Timur Tengah.

Pasalnya, menurut Azzam, apabila belum ada ekspor pada tahun ini, maka pertumbuhan produksi ikan lele dan patin kurang lebih akan stagnan.

Dikatakan Azzam, belajar dari pengalaman pada masa lalu, untuk kelas pasar lokal, apabila para pembudidaya ikan patin dan ikan lele memproduksi secara masif, maka produksi pada tahun berikutnya justru akan mengalami penurunan karena terjadinya produksi berlebih.

“Pengalaman itu sering terjadi [pada budi daya] ikan patin, sehingga kami tidak berani memproduksi tinggi [besar-besaran] karena dibatasi oleh pasar.”

Source: bisnis.com, 09 Januari 2019

Antihama dari Limbah Cangkang Kepiting-Udang Ini Juga Bisa untuk Pangawet Alami Sayuran dan Buah

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Ronny Martien berhasil mengolah limbah cangkang kepiting dan udang menjadi formula 'nanokitosan' untuk menekan hama pertanian yang ramah lingkungan.

Ronny saat jumpa pers di Kampus UGM di Yogyakarta, Jumat mengatakan ide pengembangan formula nanokitosan itu berawal dari keprihatinannya terhadap maraknya penggunaan pestisida untuk membasmi hama, khususnya di perkebunan sayur dan buah di daerah Ngablak Kopeng, Jawa Tengah.

"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakulan petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi itu berbahaya," kata Ronny, Jumat (11/1/2019), seperti dilaporkan Antara.

Dengan keprihatinan itu, kata dia, lantas muncul ide untuk membuat nanokitosan untuk melindungi tanaman dari hama dari limbah cangkang kepiting dan udang.

Selain mengandung senyawa kitin yang kemudian bisa diubah menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel berwujud cair, pemilihan cangkang udang dan kepiting itu, menurut Ronny, cukup strategis karena sumber daya kelautan di Indonesia cukup melimpah.

Formula nanokitosan yang dikembangkan, menurut dia, mengadung antimikroba sehingga memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur serta bersifat non-toksik.

"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," kata dia.

Ia mengatakan karena nanokitosan itu merupakan biopolimer atau polimer alam maka aman bagi manusia dan ramah lingkungan. "Formula ini juga dapat menyuburkan tanaman karena memiliki kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman," kata Ronny.

Ia mengatakan saat ini formula tersebut telah dimanfaatkan oleh petani di berbagai wilayah Indonesia seperti di Kopeng, Tawangmangu, Kediri, dan Lombok Barat.

Lebih dari itu, ia menambahkan, formula dari limbah cangkang kepiting dan udang yang ia kembangkan itu juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet buah, sayur, ikan, serta bahan pangan lainnya yang aman bagi tubuh.

"Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga tiga bulan dan juga menjaga kualitas produk," kata Ronny.

Sumber : Antara

Page 3 of 7

Supported by

  • aini.png
  • ap5i.png
  • apkin.png
  • ardi.png
  • asmd.png
  • asohi.png
  • fmpi.png
  • g7.png
  • gksi.png
  • gopan.png
  • gpmt.png
  • gppu.png
  • himakindo.png
  • himpuli.png
  • ieca.png
  • ispi.png
  • kemendag.png
  • kemenperin.png
  • kkp.png
  • mai.png

MEDIA PARTNERS

Official Local Publication   Official Radio    
     


Supporting Publications

   

Show Information

Date & Venue:   
3 - 5 July 2019
Grand City Convex, Surabaya - Indonesia

Visiting hours:    
10.00am - 6.00pm ( 3 - 4 July 2019)
10.00am - 5.30pm ( 5 July 2019 )

Official Legal Partner

© 2019 Indo Fisheries Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama